CULTURIO: INTEGRASI SMART DESTINATION MANAGEMENT DENGAN WISATA BUDAYA DALAM PENINGKATAN KUALITAS PEMANDU WISATA DI INDONESIA

PENYUSUN

Tiara Yektiningtyas

UNIVERSITAS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu, sektor
pariwisata mulai berkembang dan disebut sebagai sektor yang menjanjikan. Hal
ini didukung oleh pendapat Pakpahan (2020) bahwa pariwisata atau rekreasi sudah
termasuk dalam kebutuhan hidup masyarakat pada zaman ini. Peningkatan kebutuhan
inilah yang menyebabkan sektor pariwisata dinilai menjanjikan, terutama pada
pertumbuhan pendapatan negara dan sektor-sektor dalam pariwisata (Prasetyo
& Suryoko, 2018). Salah satu sektor pariwisata yang terdampak pertumbuhan
peningkatan adalah pramuwisata atau
tour
guide.
Pramuwisata adalah seseorang yang bertugas dalam membimbing, memberi
informasi, dan petunjuk tentang atraksi atau destinasi (Yoeti, 2010).

Peran pemandu wisata menurut Cohen
(1985) dalam Randall & Rollins, 2009) ada 4 yaitu pemberi arahan, peran
sosial, peran interaktif, dan peran komunikatif. Peran pemandu wisata sebagai
pemberi arahan bisa berupa petunjuk yang ada dalam tempat wisata, petunjuk
kegiatan wisata. Selanjutnya, peran sosial pemandu wisata adalah dengan
memberikan suasana yang menyenangkan, kesan harmonis, dan rasa empati yang
tinggi. Rasa empati yang tinggi ini penting terutama ketika seorang wisatawan
sedang sakit atau terlibat konflik dengan wisatawan lain atau masyarakat lokal.
Peran interaktif pemandu wisata yaitu memandu wisata secara terorganisir, Peran
interaktif pemandu wisata memandu secara terorganisir, mengelola kebutuhan
wisata dengan pihak akomodasi. Peran terakhir yaitu komunikatif, pemandu wisata
harus memberikan informasi yang akurat dan memberikan rekomendasi terkait objek
wisata yang menarik bagi wisatawan.

Tentunya, akan selalu terdapat tantangan
dalam profesi ini. Dilansir dari idebiz.id (2024), pemandu wisata kerap
menghadapi masalah komunikasi, terutama akibat perbedaan bahasa yang dapat
menyebabkan kesalahpahaman dan kesulitan dalam berkomunikasi dengan kelompok
besar. Kondisi cuaca yang tidak menentu juga merupakan tantangan karena
mengganggu jadwal tur dan mempengaruhi pengalaman wisatawan, sehingga pemandu
harus selalu siap dengan rencana cadangan. Pemandu harus memastikan bahwa
setiap wisatawan merasa puas dengan pengalaman mereka, karena mengelola harapan
wisatawan yang berbeda adalah tantangan tersendiri. Karena pemandu wisata
sering bekerja berjam-jam, mereka harus tetap antusias dan tidak lelah secara
fisik dan mental. Selain itu, mereka bertanggung jawab atas berbagai bagian
logistik, seperti transportasi dan akomodasi, yang dapat menghadapi masalah
seperti keterlambatan atau penutupan tempat wisata. Situasi darurat, seperti
kecelakaan atau kehilangan barang, membuat pekerjaan ini lebih sulit. Pemandu
harus siap untuk menangani situasi dengan tenang dan efektif.

Berdasarkan peran dan tantangan dalam
profesi pemandu wisata, pengetahuan dan keterampilan tentunya penting. Terlebih
lagi, pengetahuan dan keterampilan pemandu wisata memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kepuasan wisatawan (Brigitha dkk, 2018). Pengetahuan
pemandu wisata dapat mengoptimalkan kepuasan wisatawan karena pengetahuan yang
luas dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan yang baru pada wisatawan.
Keterampilan pemandu wisata juga memiliki pengaruh terhadap kepuasan wisatawan,
karena keterampilan pemandu wisata dapat membuat wisatawan merasa nyaman dan
aman. Menurut Cahyadi dan Gunawijaya (2009), meningkatnya jumlah wisatawan
berkaitan nilai tambah yang mereka peroleh, yaitu berupa pengetahuan,
pengalaman budaya dan kenyamanan, yang dapat meningkatkan kemungkinan untuk
datang kembali. Kepuasan wisatawan menjadi penting untuk pengembangan objek
wisata.

Berdasarkan latar belakang yang telah
dipaparkan, pemandu wisata harus memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk
meningkatkan kepuasan wisatawan. Oleh karena itu, aplikasi CULTURIO dirancang
untuk membantu pemandu wisata meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
tersebut melalui fitur-fitur seperti database budaya dan sejarah interaktif,
manajemen jadwal dan reservasi otomatis, serta notifikasi cuaca dan keamanan
real-time. Fitur augmented reality (AR) juga ditambahkan untuk memberikan
informasi visual tambahan saat memperkenalkan objek wisata. Dengan demikian,
aplikasi CULTURIO bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan
pemandu wisata sekaligus mempromosikan destinasi wisata lokal dengan lebih
baik.

Pembahasan

2.1        Fitur CULTURIO

1.        Homepage

Homepage aplikasi CULTURIO adalah pusat informasi dan akses cepat ke fitur-fitur lainnya. Homepage CULTURIO memiliki desain intuitif dan userfriendly untuk memudahkan pemandu wisata maupun wisatawan untuk mengakses fitur-fitur lainnya. Sebelum mengakses homepage, pengguna diarahkan untuk mendaftar atau memasuki akun yang sudah dibuat. Halaman awal inilah yang nantinya membedakan fitur-fitur pemandu wisata dan wisatawan ketika sudah masuk homepage.

2.     MapC (Maps and Positioning System of CULTURIO)

MapC adalah fitur peta interaktif yang disediakan untuk pemandu wisata dan wisatawan berbasis GPS dan IoT. MapC menunjukkan gambaran sebuah lokasi dan informasi serta rekomendasi lokasi situs-situs, museum, kampung, pertunjukan, dan festival budaya yang sedang dilaksanakan atau dibuka. GPS dalam fitur MapC dapat merekomendasikan rute-rute tercepat dan kepadatan lalu lintas hingga pengunjung secara real-time yang akan membantu pemandu wisata maupun wisatawan menuju lokasi dengan cepat. MapC tidak hanya menyediakan gambaran sebuah lokasi, melainkan juga berfungsi sebagai positioning system. Pemandu wisata dapat mengetahui lokasi wisatawan dan sebaliknya melalui penanda lokasi secara langsung. Penanda lokasi bagi pemandu wisata berwarna abu-abu, sedangkan penanda lokasi wisatawan berwarna merah.

3.   KnowbaCe (Knowledge and Database from CULTURIO)

KnowbaCe adalah fitur yang menyediakan informasi dan pengetahuan seputar budaya. Aplikasi ini menyediakan informasi dan materi yang berbeda bagi pemandu wisata dan wisatawan.

a)     Pemandu Wisata

Bagi pemandu wisata, KnowbaCe menyediakan materi dan pelatihan yang berkaitan tentang pemandu wisata dan peningkatan kualitas pemandu wisata. KnowbaCe menyediakan materi dan pelatihan secara daring melalui artikel dan video. Pemandu wisata juga disediakan informasi serta sejarah mengenai situs dan budaya di Indonesia berupa artikel dan video untuk menunjang pengetahuan pemandu wisata.

b)     Wisatawan

Bagi wisatawan, KnowbaCe menyediakan informasi serta sejarah terkait situs dan budaya berupa artikel dan video. KnowbaCe juga menyediakan informasi lokasi situs-situs dan museum budaya, hingga jadwal pelaksanaan pertunjukan atau festival budaya.

4. ConnecC (Communication Network of CULTURIO)

ConnecC adalah sistem komunikasi antar pemandu wisata dan wisatawan secara real-time.
ConnecC menyediakan media seperti Chat atau Direct Message agar wisatawan dapat memilih dan menghubungi pemandu wisata. ConnecC menyediakan rating berupa bintang 5 dan ulasan bagi pemandu wisata yang memiliki kualitas pelayanan yang sangat baik. ConnecC juga menyediakan pembayaran untuk memudahkan wisatawan membayar jasa pemandu wisata melalui transfer. Wisatawan yang kurang puas dengan jasa pemandu wisata dapat memberikan feedback, baik secara langsung maupun melalui ulasan yang disediakan.

5. LinC (Learning, Interacting, and Networking in CULTURIO)

LinC adalah fitur yang berfungsi sebagai media untuk pemandu wisata serta wisatawan untuk berkomunikasi dengan pemandu wisata dan wisatawan lain. LinC dapat membantu menghubungkan pemandu wisata dengan wisatawan untuk bertukar informasi, pengalaman, serta pengetahuan mengenai budaya. LinC juga membantu pemandu wisata dan wisatawan untuk tergabung ke dalam suatu komunitas budaya.

2.2       Analisis Segmenting, Targeting, and Positioning (STP)

STP adalah sebuah strategi yang terdiri atas Segmenting, Targeting, dan Positioning. Mulanya, kondisi pasar yang banyak dan luas dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil dengan karakteristik yang sama melalui Segmenting. Segmenting atau segmentasi pasar adalah strategi untuk memahami kebutuhan, keinginan, atau preferensi konsumen. Setelah pasar dikelompokkan, langkah selanjutnya adalah evaluasi, menyeleksi, dan menjangkau calon konsumen atau
pasar yang tepat. Positioning adalah langkah untuk membentuk persepsi yang baik di bena konsumen tentang produk yang
ditawarkan (Kotler, 2008).

2.4.1 Segmenting

1)     Segmentasi Geografis

Secara geografis, pasarnya berada di kota-kota besar, daerah pariwisata, dan kawasan dengan warisan atau aktivitas budaya tinggi. Selain itu, pasar untuk segmenting ini adalah pengguna di wilayah-wilayah yang kaya akan situs dan warisan budaya atau pariwisata yang berpotensi besar untuk memanfaatkan CULTURIO

2)     Segmentasi Demografis

Segmentasi berdasarkan usia yaitu dimulai dari dewasa muda hingga paruh baya (18 – 35 tahun) dan sering melakukan kegiatan pariwisata. Segmentasi berdasarkan profesi adalah pelaku pariwisata, seperti pemandu wisata, pelajar, peneliti, wisatawan, pengelola wisata dan sebagainya. Segmentasi berdasarkan pendapatan adalah segmen yang memiliki daya beli untuk berwisata dan penggunaan teknologi, yaitu kelas menengah ke atas.

3)     Segmentasi Psikografis

Segmentasi berdasarkan psikografis yaitu minat dan gaya hidup individu yang tertarik dengan wisata budaya, konservasi, dan peduli akan kelestarian budaya, serta individu yang mengutamakan pengalaman interaktif dan personal.

4)     Segmentasi Perilaku

Segmentasi berdasarkan perilaku yaitu individu yang lebih nyaman mencari kemudahan dan menggunakan teknologi terkini dalam berwisata. Misalnya untuk mengakses informasi, navigasi lokasi, dan komunikasi jarak jauh.

2.4.2 Targeting

1)     Segmen Utama

Penetapan segmen utama CULTURIO ini adalah wisatawan yang tertarik untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman autentik akan situs-situs dan warisan budaya, baik wisatawan domestik maupun internasional.

2)     Segmen Sekunder

Penetapan segmen sekunder CULTURIO ini adalah pemandu wisata yang ingin meningkatkan pengetahuan akan budaya ataupun seputar pemandu wisata, dan peningkatan kualitas layanan melalui e-learning. Selain pemandu wisata, pengelola wisata budaya yang ingin meningkatkan kepuasan wisatawan dan meningkatkan kualitas pelayanan dengan integrasi IoT juga ditetapkan dalam segmen ini.

2.4.3 Positioning

CULTURIO adalah aplikasi yang menghubungkan pemandu wisata dengan wisatawan untuk melakukan kegiatan pariwisata di wisata budaya seperti situs-situs, museum, festival, dan sebagainya. CULTURIO juga menyediakan informasi dan pengetahuan seputar budaya-budaya di Indonesia baik melalui artikel ataupun video untuk meningkatkan pengetahuan wisatawan dan pemandu wisata akan budaya-budaya di Indonesia. Bagi pemandu wisata, CULTURIO menyediakan pelatihan berbasis e-learning seputar pemandu wisata untuk memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kualitas jasa pemandu wisata. CULTURIO bukan hanya aplikasi yang menawarkan pengalaman berwisata atau lapangan pekerjaan, tetapi juga ikut berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya Indonesia.

Kesimpulan

WTujuan utama dari pengembangan aplikasi CULTURIO yaitu meningkatkan kualitas layanan pemandu wisata melalui integrasi teknologi yang cerdas dan efisien. Aplikasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemandu wisata, tetapi juga untuk mempromosikan destinasi wisata budaya secara berkelanjutan. Pemanfaatan fitur-fitur inovatif seperti manajemen jadwal otomatis, database budaya interaktif, dan notifikasi real-time, CULTURIO diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan dan mendukung pelestarian budaya lokal. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Saran

Saran untuk peneliti selanjutnya dalam konteks pengembangan aplikasi CULTURIO dan penelitian pariwisata budaya. Penelitian ini dapat menjadi studi kasus di berbagai destinasi wisata yang berbeda untuk mengevaluasi efektivitas aplikasi CULTURIO dalam konteks yang beragam serta disesuaikan dengan karakteristik unik setiap lokasi. Penelitian selanjutnya perlu fokus pada pengukuran keberlanjutan dari penggunaan aplikasi CULTURIO, baik dari segi lingkungan maupun sosial. Peneliti dapat mengembangkan indikator keberlanjutan yang spesifik untuk menilai dampak aplikasi terhadap pelestarian budaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka

Du Cros, H. and McKercher, B., 2020. Cultural tourism. Routledge. 

Gretzel, U., 2022. The Smart DMO: A new step in the digital transformation of destination management organizations. European Journal of Tourism Research, 30, 3002-3002. 

Hasanah, R., 2019. Kearifan lokal sebagai daya tarik wisata budaya di Desa Sade Kabupaten Lombok Tengah. DESKOVI: Art and Design Journal, 2(1), pp.45-52. 

Hernández-Martín, R., Rodríguez-Rodríguez, Y., & Gahr, D., 2017. Functional zoning for smart destination management. European Journal of Tourism Research, 17, 43-58. 

Ivars-Baidal, J. A., Celdrán-Bernabeu, M. A., Mazón, J. N., & Perles-Ivars, Á. F., 2019. Smart destinations and the evolution of ICTs: a new scenario for destination management?. Current Issues in Tourism, 22(13), 1581-1600. 

Kotler, Philip. 2009. Marketing Management. Ed Mileium Madakam, S., Ramaswamy, R., & Tripathi, S., 2015. Internet of Things (IoT): A literature review. Journal of Computer and Communications, 3(5), 164-173. 

Nunberg, G., 2012. The Advent of the Internet: 12th April, Courses. 

SETIAWAN, D., 2024. “SMART TOURISM : BLOCKCHAIN, ARTIFICIAL INTELLIGENCE DAN INTERNET of THINGS IMPLEMENTASI DALAM INDUSTRI PARIWISATA 5.0”, JURNAL EKONOMI, SOSIAL & HUMANIORA, 6(02), pp. 310-317. Available at: https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/1085 (Diakses: 30 Oktober 2024). 

Start, D & Hovland, I. 1991. Tools for Policy Impact: A Handbook for Researchers. 

Universitas Negeri Yogyakarta. 48 Menurut Moleong (2005:4), pendekatan deskriptif kualitatif yaitu pendekatan penelitian dimana data-data yang dikumpulkan beru. Diakses October 30, 2024, dari https://eprints.uny.ac.id/24791/4/4.%20BAB%20III%2048-61.pdf Yoeti, O, A. (2010). Dasar-dasar Pengertian Hospitality dan Pariwisata. Bandung: PT Alumni. 

Prasetyo, B. & Suryoko, S. (2018). Dampak Pengembangan Pariwisata terhadap Perkembangan UMKM pada Kawasan Dieng. Diponegoro Journal of Social and Politic. http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/ 

Pakpahan, A. (2020). KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI SUNGAI BATU SEI Jurnal Sociopolitico Jurnal Sociopolitico. 

Randall, C., & Rollins, R. B. (2009). Visitor perceptions of the role of tour guides in natural areas. Journal of Sustainable Tourism, 17(3). 

Cahyadi, R & Gunawijaya, J. (2009). Pariwisata Pusaka: Masa Depan Bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama. UNESCO Office, Jakarta.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *