The relationship between business strategy and bankruptcy risk: does financial flexibility matter? Evidence from a developing market
Penulis
Ahmed Diab, Aref M. Eissa, & Arafat Hamdy
Jurnal
Cogent Business & Management
Reviewer
Naila Ayu Rahmasari
Latar Belakang
Penelitian ini didasari oleh kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada kemungkinan kebangkrutan perusahaan, terutama dalam konteks pasar yang sedang berkembang seperti di Arab Saudi. Penelitian ini secara spesifik meneliti strategi bisnis (kepemimpinan biaya dan diferensiasi produk) yang diduga memiliki pengaruh pada risiko kebangkrutan, disertai dengan peran fleksibilitas keuangan yang bertindak sebagai pemoderasi dalam hubungan tersebut. Ketidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya dan minimnya studi yang mengeksplorasi peran fleksibilitas keuangan dalam hubungan antara strategi bisnis dan risiko kebangkrutan menjadi alasan untuk melaksanakan penelitian ini.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak strategi bisnis terhadap kemungkinan terjadinya kebangkrutan dan menginvestigasi fungsi moderasi dari fleksibilitas keuangan dalam hubungan tersebut pada perusahaan yang tidak bergerak di bidang keuangan dan terdaftar di Bursa Saham Saudi (Tadawul) sepanjang periode 2010 hingga 2019.
Metode
Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan metode regresi OLS serta OLS dengan kesalahan standar yang kuat. Jumlah sampel akhirnya mencakup 126 perusahaan yang menghasilkan total 1.260 pengamatan. Sumber data utama yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari laporan keuangan tahunan. Untuk mengukur strategi bisnis, digunakan asset turnover (ATO) sebagai indikator kepemimpinan biaya dan profit margin (PM) untuk mengukur diferensiasi produk, sementara untuk menilai risiko kebangkrutan, diterapkan Altman Z-Score. Fleksibilitas finansial dinilai dengan cara melihat unused debt capacity.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pendekatan bisnis (memimpin biaya dan membedakan produk) memiliki dampak negatif terhadap kemungkinan kebangkrutan. Dengan kata lain, perusahaan yang mengadopsi salah satu dari dua strategi umum itu biasanya menghadapi risiko kebangkrutan yang lebih rendah. Namun, setelah mempertimbangkan peran moderasi dari fleksibilitas keuangan, hasil yang menarik muncul. Fleksibilitas keuangan ternyata meningkatkan risiko kebangkrutan di perusahaan yang memilih strategi kepemimpinan biaya. Di sisi lain, fleksibilitas keuangan dapat menurunkan risiko kebangkrutan pada perusahaan yang mengikuti strategi diferensiasi produk. Penemuan ini dapat dimengerti melalui karakteristik khusus dari tiap strategi: perusahaan dengan diferensiasi yang inovatif dan berisiko tinggi memerlukan fleksibilitas keuangan guna membiayai kesempatan investasi dan mengatasi ketidakpastian, sedangkan pada perusahaan yang memimpin biaya, fleksibilitas keuangan dapat menyebabkan biaya ajensi dan investasi berlebihan yang pada akhirnya berbuah risiko.
Kesimpulan
Penelitian ini menemukan bahwa pendekatan bisnis yang baik dapat mengurangi kemungkinan kebangkrutan, tetapi pengaruh dari fleksibilitas finansial terhadap risiko tersebut bervariasi tergantung pada tipe strategi yang diterapkan. Konsekuensi dari hasil ini sangat berarti bagi manajer, investor, dan pengatur di pasar yang sedang berkembang untuk memperhatikan hubungan antara pendekatan bisnis dan fleksibilitas finansial saat membuat keputusan dan merancang kebijakan, mengingat bahwa fleksibilitas finansial tidak selalu menjadi aset yang menguntungkan untuk setiap tipe perusahaan.
« Kembali ke daftar judul