Pengaruh Digital Financial Literacy terhadap Financial Anxiety Mahasiswa di Indonesia: Perspektif dari Akuntansi Keperilakuan

Penulis
Novieanty Pagiling, Yuyun Karystin Meilissa Suade, Salmah Sharon, Bellatrix Kezia Mambu, dan Fia Fauziah Burhanuddin.
Jurnal
Jurnal Kajian Ekonomi dan Bisnis
Reviewer
Deswita Salsabila Zulfa

Latar Belakang
Pesatnya perkembangan teknologi digital di sektor keuangan mengubah cara masyarakat, khususnya mahasiswa, mengakses dan mengelola keuangan. Namun, rendahnya literasi keuangan digital menjadi tantangan besar dalam mendorong inklusi keuangan. Di sisi lain, meningkatnya isu kesehatan mental di kalangan generasi muda, termasuk fenomena financial anxiety, menunjukkan adanya tekanan psikologis akibat ketidakstabilan keuangan. Mahasiswa sebagai kelompok usia produktif sangat rentan karena keterbatasan pendapatan, biaya pendidikan, serta eksposur pada layanan keuangan digital. Dalam konteks ini, literasi keuangan digital diharapkan dapat menurunkan kecemasan finansial, meskipun secara teoritis hubungan keduanya masih perlu diteliti lebih dalam.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris pengaruh literasi keuangan digital (Digital Financial Literacy/DFL) terhadap financial anxiety mahasiswa di Indonesia dengan pendekatan akuntansi keperilakuan.
Metode
Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan survei kuesioner online kepada 176 mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Responden adalah mahasiswa aktif S1 yang telah menggunakan aplikasi keuangan digital minimal tiga bulan terakhir. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS 26, setelah melalui uji asumsi klasik (normalitas, linearitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas).
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan digital memiliki pengaruh positif signifikan terhadap financial anxiety mahasiswa (p = 0,000 < 0,05). Artinya, semakin tinggi pemahaman mahasiswa terhadap keuangan digital, justru semakin tinggi pula kecemasan finansial yang mereka rasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan literasi digital lebih sadar terhadap keterbatasan kondisi finansialnya, sehingga tekanan psikologis semakin besar. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,103 menunjukkan bahwa DFL hanya menjelaskan 10,3% variasi financial anxiety, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain. Hal ini memperkuat pandangan bahwa literasi keuangan digital dapat menjadi pedang bermata dua: di satu sisi meningkatkan pemahaman, tetapi di sisi lain juga menimbulkan kesadaran berlebih akan risiko dan keterbatasan keuangan.
Kesimpulan
Penelitian menyimpulkan bahwa literasi keuangan digital berpengaruh signifikan terhadap financial anxiety mahasiswa di Indonesia, meskipun kontribusinya relatif kecil. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas literasi keuangan digital, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dengan pendekatan edukatif dan suportif agar mahasiswa tidak hanya memahami risiko keuangan, tetapi juga mampu mengelolanya dengan baik tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan. Bagi pendidikan tinggi, hasil penelitian ini memberikan implikasi perlunya transformasi kurikulum akuntansi agar lebih kontekstual, aplikatif, dan responsif terhadap tantangan digitalisasi serta isu kesehatan mental mahasiswa.
« Kembali ke daftar judul